CUWI 2 (CATCHING UP WITH IMAKAHI 2) : “Dari Tikus ke Manusia: Fakta Mengejutkan tentang Virus Hanta”

 CUWI 2 (CATCHING UP WITH IMAKAHI 2)

“Dari Tikus ke Manusia: Fakta Mengejutkan tentang Virus Hanta” 


Virus Hanta atau hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan terutama melalui rodensia seperti tikus dan mencit. Infeksi hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, terutama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi dan menjadi perhatian kesehatan masyarakat global karena penyebarannya berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, kepadatan populasi rodensia, dan aktivitas manusia.

Hantavirus pertama kali dikenal luas setelah wabah HPS di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada tahun 1993. Hingga kini, berbagai jenis hantavirus telah ditemukan di Asia, Eropa, Amerika, dan beberapa wilayah Afrika. Virus ini termasuk dalam famili Hantaviridae dan memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal negatif.


Etiologi dan Cara Penularan

Hantavirus hidup secara alami pada hewan pengerat tanpa menyebabkan penyakit berat pada hewan tersebut. Penularan ke manusia terjadi melalui inhalasi partikel aerosol yang berasal dari urine, saliva, atau feses rodensia yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui gigitan tikus atau kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi. Sebagian besar hantavirus tidak menular antar manusia. Namun, Andes virus yang ditemukan di Amerika Selatan dilaporkan mampu menyebabkan transmisi antarmanusia dalam kondisi tertentu. Faktor risiko infeksi meliputi:

  • Tinggal atau bekerja di lingkungan dengan infestasi tikus.
  • Membersihkan gudang, loteng, atau bangunan tertutup tanpa perlindungan.
  • Aktivitas berkemah atau bekerja di area hutan.
  • Kondisi sanitasi yang buruk.

Manifestasi Klinis

1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

HPS banyak ditemukan di wilayah Amerika. Gejala awal menyerupai influenza, seperti:

  • Demam
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Kelelahan

Dalam beberapa hari, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan berat akibat edema paru sehingga memerlukan ventilasi mekanik. Tingkat kematian HPS dilaporkan sekitar 35–40%.


2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Manifestasi klinis meliputi:

  • Demam tinggi
  • Nyeri punggung dan abdomen
  • Perdarahan
  • Hipotensi
  • Gagal ginjal akut

Tingkat keparahan penyakit bergantung pada jenis virus penyebab.


Diagnosis

Diagnosis hantavirus dilakukan berdasarkan:

  • Riwayat paparan rodensia.
  • Gejala klinis yang khas.
  • Pemeriksaan laboratorium, seperti:
  • ELISA antibodi IgM/IgG
  • RT-PCR
  • Imunohistokimia

Diagnosis dini cukup sulit karena gejalanya mirip dengan influenza atau penyakit infeksi lain.


Pengobatan

Hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus spesifik untuk infeksi hantavirus. Penatalaksanaan bersifat suportif, meliputi:

  • Pemberian oksigen
  • Cairan intravena
  • Ventilasi mekanik
  • Dialisis bila terjadi gagal ginjal

Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh diagnosis dan penanganan dini.


Pencegahan

Upaya pencegahan utama adalah mengurangi kontak dengan rodensia, antara lain:

  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Menutup celah masuk tikus di rumah.
  • Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang terkontaminasi.
  • Menyimpan makanan dalam wadah tertutup.
  • Mengendalikan populasi tikus.

CDC juga menyarankan ventilasi ruangan sebelum dibersihkan untuk mengurangi aerosol virus.


Kesimpulan

Hantavirus merupakan penyakit zoonotik serius dengan tingkat mortalitas tinggi. Penularan terutama berasal dari rodensia melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Manifestasi utama berupa HPS dan HFRS yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan maupun gagal ginjal berat. Karena belum tersedia terapi spesifik maupun vaksin yang efektif secara luas, pencegahan melalui pengendalian rodensia dan peningkatan sanitasi lingkungan menjadi langkah utama dalam menurunkan angka kejadian hantavirus.


Referensi


Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About hantavirus. CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus/


Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Clinical overview of hantavirus. CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus/hcp/clinical-overview/index.html


Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Clinician brief: Hantavirus pulmonary syndrome (HPS). CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus/hcp/clinical-overview/hps.html


Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Reported cases of hantavirus disease. CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus/data-research/cases/index.html


Danforth, M. E., Messenger, S., Buttke, D., Weinburke, M., Carroll, G., Hacker, G., & Novak, M. (2020). Long-term rodent surveillance after outbreak of hantavirus infection, Yosemite National Park, California, USA, 2012. Emerging Infectious Diseases, 26(3), 533–542.


Klempa, B. (2015). Hantaviruses—Globally emerging pathogens. Journal of Clinical Virology, 64, 128–136. https://doi.org/10.1016/j.jcv.2014.08.033


Vaheri, A., Strandin, T., Hepojoki, J., Sironen, T., Henttonen, H., Mäkelä, S., & Mustonen, J. (2015). Uncovering the mysteries of hantavirus infections. Nature Reviews Microbiology, 11(8), 539–550.


Yanagihara, R., Gu, S. H., Arai, S., Kang, H. J., & Song, J. W. (2015). Hantaviruses: Rediscovery and new beginnings. Virus Research, 187, 6–14.


Yoshimatsu, K., & Arikawa, J. (2014). Antigenic and genetic characterization of hantaviruses. Virology Journal, 11(1), 1–12.




Komentar