PRESS RELEASE IMAKAHI DISCUSSION FORUM (IDIOM) 2026: “Analisis Risiko Kontaminasi Toxoplasma gondii dalam Rantai Pasok Pangan dan Sumber Air”
PRESS RELEASE IMAKAHI DISCUSSION FORUM (IDIOM) 2026:
“Analisis Risiko Kontaminasi Toxoplasma gondii dalam Rantai Pasok Pangan dan Sumber Air”
Pada hari Jumat, tanggal 10 April 2026, telah diselenggarakan program kerja tahunan berupa seminar ilmiah yaitu IDIOM (Imakahi Discussion Forum) dengan tema “Analisis Risiko Kontaminasi Toxoplasma gondii dalam Rantai Pasok Pangan dan Sumber Air” oleh bidang Kebijakan Profesi PC IMAKAHI UNAIR. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai potensi risiko zoonosis yang berasal dari parasit Toxoplasma gondii, khususnya dalam konteks keamanan pangan dan kualitas sumber air juga meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam berdiskusi.
Acara ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Mufasirin, M.Si., drh. yang merupakan ketua Divisi Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Kegiatan ini berlangsung di ruang kelas VPH Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, kampus C, Surabaya dan diikuti oleh mahasiswa semester II, semester IV dan semester VI dengan antusiasme yang luar biasa. Dalam pemaparannya, Dr. Mufasirin, M.Si., drh. Menegaskan bahwa Toxoplasma gondii bukanlah virus, melainkan protozoa intraseluler yang memiliki distribusi luas di seluruh dunia dan mampu menginfeksi berbagai hewan berdarah panas, termasuk manusia.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa kontaminasi dapat terjadi melalui berbagai jalur, seperti konsumsi daging yang tidak dimasak sempurna, paparan terhadap air yang terkontaminasi, serta lingkungan yang tercemar oleh parasit. Oleh karena itu, pengendalian risiko memerlukan pendekatan terpadu yang mencakup aspek higiene, sanitasi, serta pengelolaan rantai pasok pangan yang baik. Dari aspek epidemiologi, toksoplasmosis memiliki prevalensi yang cukup tinggi secara global maupun nasional. Di Indonesia sendiri, berbagai studi menunjukkan tingkat prevalensi yang bervariasi pada manusia, hewan, hingga produk pangan, termasuk daging, telur, dan susu. Hal ini menunjukkan bahwa rantai pasok pangan memiliki peran penting dalam penyebaran parasit ini.
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam seminar ini adalah peran sumber air sebagai media penularan Toxoplasma gondii. Air dapat menjadi sarana transportasi ookista dari feses kucing ke berbagai lingkungan, termasuk sumber air minum, lahan pertanian, dan perairan umum. Bahkan, ookista dapat bertahan hidup dalam kondisi lembab selama berbulan-bulan, sehingga meningkatkan risiko infeksi bagi manusia dan hewan.
Selain itu, dipaparkan pula hasil penelitian terbaru yang menunjukkan adanya kontaminasi T. gondii pada sumber air minum ternak di beberapa wilayah di Jawa Timur dengan prevalensi yang cukup signifikan. Hal ini menegaskan pentingnya pengawasan kualitas air sebagai bagian dari upaya pengendalian zoonosis.Dari sisi klinis, infeksi toksoplasmosis pada manusia umumnya bersifat asimptomatis, namun pada kelompok rentan seperti ibu hamil dan individu imunokompromais, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan sistem saraf pusat dan toksoplasmosis kongenital. Pada hewan, infeksi dapat menyebabkan gangguan reproduksi seperti keguguran dan penurunan produktivitas ternak.
Dalam upaya pengendalian, narasumber menekankan pentingnya penerapan prinsip biosekuriti dan higiene, seperti pengolahan makanan yang baik, sanitasi lingkungan, serta pengelolaan pakan dan air pada peternakan. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci utama dalam mencegah penularan, termasuk kebiasaan mencuci tangan, memasak daging hingga matang, serta menghindari konsumsi produk hewani mentah.
Lebih jauh, disampaikan bahwa dokter hewan memiliki peran strategis dalam pendekatan One Health, yaitu melalui surveilans, deteksi dini, serta kolaborasi lintas sektor dengan tenaga medis dan otoritas kesehatan masyarakat. Toksoplasmosis bahkan disebut memiliki potensi sebagai ancaman bioterorisme zoonotik apabila tidak dikelola dengan baik.
Kegiatan ini disusun dan dilaksanakan oleh panitia IDIOM 2025 yang dikoordinatori oleh Zanuba Aulia Medya Mecca Azzahra, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan dan air bersih, serta memperkuat peran tenaga kesehatan hewan dalam menjaga kesehatan masyarakat secara terpadu. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong kolaborasi lintas sektor guna mengurangi risiko penyakit zoonosis di Indonesia.
PRESS RELEASE IMAKAHI DISCUSSION FORUM (IDIOM) 2026:
“Analisis Risiko Kontaminasi Toxoplasma gondii dalam Rantai Pasok Pangan dan Sumber Air”
Pada hari Jumat, tanggal 10 April 2026, telah diselenggarakan program kerja tahunan berupa seminar ilmiah yaitu IDIOM (Imakahi Discussion Forum) dengan tema “Analisis Risiko Kontaminasi Toxoplasma gondii dalam Rantai Pasok Pangan dan Sumber Air” oleh bidang Kebijakan Profesi PC IMAKAHI UNAIR. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai potensi risiko zoonosis yang berasal dari parasit Toxoplasma gondii, khususnya dalam konteks keamanan pangan dan kualitas sumber air juga meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam berdiskusi.
Acara ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Mufasirin, M.Si., drh. yang merupakan ketua Divisi Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Kegiatan ini berlangsung di ruang kelas VPH Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, kampus C, Surabaya dan diikuti oleh mahasiswa semester II, semester IV dan semester VI dengan antusiasme yang luar biasa. Dalam pemaparannya, Dr. Mufasirin, M.Si., drh. Menegaskan bahwa Toxoplasma gondii bukanlah virus, melainkan protozoa intraseluler yang memiliki distribusi luas di seluruh dunia dan mampu menginfeksi berbagai hewan berdarah panas, termasuk manusia.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa kontaminasi dapat terjadi melalui berbagai jalur, seperti konsumsi daging yang tidak dimasak sempurna, paparan terhadap air yang terkontaminasi, serta lingkungan yang tercemar oleh parasit. Oleh karena itu, pengendalian risiko memerlukan pendekatan terpadu yang mencakup aspek higiene, sanitasi, serta pengelolaan rantai pasok pangan yang baik. Dari aspek epidemiologi, toksoplasmosis memiliki prevalensi yang cukup tinggi secara global maupun nasional. Di Indonesia sendiri, berbagai studi menunjukkan tingkat prevalensi yang bervariasi pada manusia, hewan, hingga produk pangan, termasuk daging, telur, dan susu. Hal ini menunjukkan bahwa rantai pasok pangan memiliki peran penting dalam penyebaran parasit ini.
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam seminar ini adalah peran sumber air sebagai media penularan Toxoplasma gondii. Air dapat menjadi sarana transportasi ookista dari feses kucing ke berbagai lingkungan, termasuk sumber air minum, lahan pertanian, dan perairan umum. Bahkan, ookista dapat bertahan hidup dalam kondisi lembab selama berbulan-bulan, sehingga meningkatkan risiko infeksi bagi manusia dan hewan.
Selain itu, dipaparkan pula hasil penelitian terbaru yang menunjukkan adanya kontaminasi T. gondii pada sumber air minum ternak di beberapa wilayah di Jawa Timur dengan prevalensi yang cukup signifikan. Hal ini menegaskan pentingnya pengawasan kualitas air sebagai bagian dari upaya pengendalian zoonosis.Dari sisi klinis, infeksi toksoplasmosis pada manusia umumnya bersifat asimptomatis, namun pada kelompok rentan seperti ibu hamil dan individu imunokompromais, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan sistem saraf pusat dan toksoplasmosis kongenital. Pada hewan, infeksi dapat menyebabkan gangguan reproduksi seperti keguguran dan penurunan produktivitas ternak.
Dalam upaya pengendalian, narasumber menekankan pentingnya penerapan prinsip biosekuriti dan higiene, seperti pengolahan makanan yang baik, sanitasi lingkungan, serta pengelolaan pakan dan air pada peternakan. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci utama dalam mencegah penularan, termasuk kebiasaan mencuci tangan, memasak daging hingga matang, serta menghindari konsumsi produk hewani mentah.
Lebih jauh, disampaikan bahwa dokter hewan memiliki peran strategis dalam pendekatan One Health, yaitu melalui surveilans, deteksi dini, serta kolaborasi lintas sektor dengan tenaga medis dan otoritas kesehatan masyarakat. Toksoplasmosis bahkan disebut memiliki potensi sebagai ancaman bioterorisme zoonotik apabila tidak dikelola dengan baik.
Kegiatan ini disusun dan dilaksanakan oleh panitia IDIOM 2025 yang dikoordinatori oleh Zanuba Aulia Medya Mecca Azzahra, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan dan air bersih, serta memperkuat peran tenaga kesehatan hewan dalam menjaga kesehatan masyarakat secara terpadu. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong kolaborasi lintas sektor guna mengurangi risiko penyakit zoonosis di Indonesia.


Komentar
Posting Komentar